Sekilas Terdengar Biasa Biasa Saja, Tapi Bisa Berbahaya.


  1. Saudara laki-lakinya bertanya saat kunjungan seminggu setelah adik perempuannya melahirkan: "Hadiah apa yg diberikan suamimu setelah engkau melahirkan?" Tidak ada, jawab adiknya pendek. Saudara laki-lakinya berkata lagi, "Masa sih, apa engkau tidak berharga di sisinya? Aku bahkan sering memberi hadiah istriku walau tanpa alasan yg istimewa".‎ Siang itu, ketika suaminya lelah sepulang dari kantor menemukan istrinya merajuk di rumah. Keduanya lalu terlibat pertengkaran. Sebulan kemudian, antara suami istri ini terjadi perceraian. Dari mana sumber masalahnya? Dari kalimat sederhana yg diucapkan saudara laki-laki kepada adik perempuannya.
  2. Di saat arisan seorang ibu bertanya: Rumahmu ini apa tidak terlalu sempit ya, Jeng?  Bukankah anak-anakmu banyak? Maka, rumah yang tadinya terasa lapang, sejak saat itu, mulai dirasa sempit oleh penghuninya. ‎Ketenangan pun hilang saat keluarga ini mulai terbelit hutang kala mencoba membeli rumah besar dengan cara kredit ke bank.
  3. Seorang teman bertanya, Berapa gajimu sebulan kerja di toko itu? Ia menjawab: 1,5 juta rupiah. Cuma 1,5 juta rupiah? Sedikit sekali ia menghargai keringatmu. Apa cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupmu? Sejak saat itu ia jadi membenci pekerjaannya. Ia lalu meminta kenaikan gaji pada pemilik toko, pemilik toko menolak & malah mem-PHK-nya.‎ Kini ia malah tidak berpenghasilan & jadi pengangguran.‎
  4. Seseorang bertanya pada kakek-kakek tua itu:‎ "Berapa kali anakmu mengunjungimu dalam sebulan Kek?" Si kakek menjawab: Sebulan sekali. Yang bertanya menimpali. ‎Wah, keterlaluan sekali anak-anakmu itu. Diusia senjamu ini seharusnya mereka mengunjungimu lebih sering.‎ Hati si kakek menjadi sempit padahal tadinya ia amat lapang & rela terhadap anak-anaknya. Ia jadi sering menangis & ini memperburuk kesehatan & kondisi badannya.‎


#HIKMAHNYA#


Apa sebenarnya keuntungan yang kita dapatkan ketika memberikan pertanyaan & pernyataan seperti di atas?

Karena itu, jaga-lah diri & lisan dari mencampuri urusan kehidupan orang lain dengan mengecilkan dunia mereka, kesederhanaan mereka, ketenangan & ketentraman kehidupan mereka. Menanamkan rasa tak rela pada yang mereka punya/miliki.‎ Mengkritisi penghasilan & keluarga mereka, menanyakan KAPAN MENIKAH, & seterusnya... & seterusnya lagi...‎
Dengan “DALIH KEBANGGAAN” yaitu: kan itu niat baik, nasehat yang baik, terserah mau diikutin atau tidak...

Cobalah ingat bahwa kita bukanlah Tuhan, berarti kita sudah pasti tidak punya kemampuan mengatur apa yang akan terjadi setelah orang mendengar perkataan kita. Maka kita akan menjadi AGEN KERUSAKAN di muka bumi dengan cara-cara seperti ini. Bila ada Bom yg meledak coba-lah introspeksi diri, bisa jadi kita-lah yg menyalakan sumbunya.‎

“Ingatlah bahwa hidup manusia adalah Satu Perjalanan dan Proses Hidup setiap orang Tidaklah Sama".

Singkat kata: Don’t be KEPO, be nice and take care ONLY YOUR OWN PRIVACY, God Bless

Yohanes 21:22 Jawab Yesus: “Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku.”

Sahabat, seringkali kita lebih suka mengurusi masalah orang. Bahkan ketika mendengar Firman TUHAN beberapa orang sering berkata dalam hatinya, “Ah, Firman Tuhan ini cocok sekali untuk dia.” Untuk urusan kebenaran Firman TUHAN mari kita fokus terlebih dahulu dengan diri kita sendiri. Pastikan diri kita menerima setiap kebenaran yang ditulis oleh Alkitab. Itulah yang YESUS katakan kepada Petrus, “Itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: Ikutlah AKU”.


Tempat di temukan kembali 3 kitab kitab Henokh, Yashar & Yobel


Kitab Henokh, Yashar dan yobel yang hilang berabad-abad dan dimusnahkan oleh pihak tertentu.

Naskah Laut Mati adalah Naskah Gua-gua Qumran adalah suatu kumpulan sekitar 981 naskah berbeda yang ditemukan antara tahun 1946 dan 1956 dalam 11 gua di sekitar pemukiman kuno di Khirbet Qumran di Tepi Barat. Gua-gua tersebut terletak sekitar 2 kilometer ke pedalaman dari sebelah barat laut pantai Laut Mati. 
Daniel 12:4: "Tetapi engkau, Daniel, sembunyikanlah segala firman itu dan meteraikanlah Kitab itu sampai pada akhir zaman; banyak orang akan menyelidikinya dan pengetahuan akan bertambah.”

Kisah tentang roh jahat


Pada suatu kali ketika kami pergi ke tempat sembahyang itu, kami bertemu dengan seorang hamba perempuan yang mempunyai roh tenung dengan tenungan-tenungannya, tuan-tuannya memperoleh penghasilan besar. Ia mengikuti Paulus dan kami dari belakang sambil berseru, katanya: 
“Orang-orang ini adalah hamba Allah Yang Mahatinggi. Mereka memberitakan kepadamu jalan kepada keselamatan.” 
Hal itu dilakukannya beberapa hari lamanya. Tetapi ketika Paulus tidak tahan lagi akan gangguan itu, ia berpaling dan berkata kepada roh itu: 
“Demi nama Yesus Kristus aku menyuruh engkau keluar dari perempuan ini.” Seketika itu juga keluarlah roh itu.
Ketika tuan-tuan perempuan itu melihat, bahwa harapan mereka akan mendapat penghasilan lenyap, mereka menangkap Paulus dan Silas, lalu menyeret mereka ke pasar untuk menghadap penguasa.  Setelah mereka membawa keduanya menghadap pembesar-pembesar kota itu, berkatalah mereka, katanya: 
“Orang-orang ini mengacau kota kita ini karena mereka orang Yahudi dan mereka mengajarkan adat istiadat, yang kita sebagai orang Rum tidak boleh menerimanya atau menurutinya.”
Juga orang banyak bangkit menentang mereka. Lalu para pembesar kota itu menyuruh mengoyakkan pakaian dari tubuh mereka dan mendera mereka. Setelah mereka berkali-kali didera, mereka dilemparkan ke dalam penjara. 

Kepala penjara diperintahkan untuk menjaga mereka dengan sungguh-sungguh.  Sesuai dengan perintah itu, kepala penjara memasukkan mereka ke ruang penjara yang paling tengah dan membelenggu kaki mereka dalam pasungan yang kuat. Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka. 

Akan tetapi terjadilah gempa bumi yang hebat, sehingga sendi-sendi penjara itu goyah dan seketika itu juga terbukalah semua pintu dan terlepaslah belenggu mereka semua. Ketika kepala penjara itu terjaga dari tidurnya dan melihat pintu-pintu penjara terbuka, ia menghunus pedangnya hendak membunuh diri karena ia menyangka, bahwa orang-orang hukuman itu telah melarikan diri. 

Tetapi Paulus berseru dengan suara nyaring, katanya: “Jangan celakakan dirimu, sebab kami semuanya masih ada di sini!” Kepala penjara itu menyuruh membawa suluh, lalu berlari masuk dan dengan gemetar tersungkurlah ia di depan Paulus dan Silas. Ia mengantar mereka ke luar, sambil berkata: “Tuan-tuan, apakah yang harus aku perbuat, supaya aku selamat?” Jawab mereka: “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.” Lalu mereka memberitakan firman Tuhan kepadanya dan kepada semua orang yang ada di rumahnya. 


Pada jam itu juga kepala penjara itu membawa mereka dan membasuh bilur mereka. Seketika itu juga ia dan keluarganya memberi diri dibaptis. 
Lalu ia membawa mereka ke rumahnya dan menghidangkan makanan kepada mereka. Dan ia sangat bergembira, bahwa ia dan seisi rumahnya telah menjadi percaya kepada Allah.

Setelah hari siang pembesar-pembesar kota menyuruh pejabat-pejabat kota pergi kepada kepala penjara dengan pesan: 
“Lepaskanlah kedua orang itu!” Kepala penjara meneruskan pesan itu kepada Paulus, katanya: “Pembesar-pembesar kota telah menyuruh melepaskan kamu jadi keluarlah kamu sekarang dan pergilah dengan selamat!”Tetapi Paulus berkata kepada orang-orang itu: “Tanpa diadili mereka telah mendera kami, warganegara-warganegara Roma, di muka umum, lalu melemparkan kami ke dalam penjara. Sekarang mereka mau mengeluarkan kami dengan diam-diam? Tidak mungkin demikian! Biarlah mereka datang sendiri dan membawa kami ke luar.” 
Pejabat-pejabat itu menyampaikan perkataan itu kepada pembesar-pembesar kota. Ketika mereka mendengar, bahwa Paulus dan Silas adalah orang Rum, maka takutlah mereka. Mereka datang minta maaf lalu membawa kedua rasul itu ke luar dan memohon, supaya mereka meninggalkan kota itu.

Lalu mereka meninggalkan penjara itu dan pergi ke rumah Lidia dan setelah bertemu dengan saudara-saudara di situ dan menghiburkan mereka, berangkatlah kedua rasul itu.  Kis 16:16-40.

Ia adalah yang paling tahu. Ia menulis cerita kita


Pernah ada seorang tua yang hidup di desa kecil. Meskipun ia miskin, semua orang cemburu kepadanya karena ia memiliki kuda putih cantik. Bahkan raja menginginkan hartanya itu. Kuda seperti itu belum pernah di lihat begitu kemegahannya, keagungannya dan kekuatannya. Orang menawarkan harga amat tinggi untuk kuda jantan itu, tetapi orang tua itu selalu menolak, 
“Kuda ini bukan kuda bagi saya, Ia adalah seperti seseorang. Bagaimana kita dapat menjual seseorang. Ia adalah sahabat bukan milik. Bagaimana kita dapat menjual seorang sahabat.” 
Orang itu miskin dan godaan besar. Tetapi ia tetap tidak menjual kuda itu. Suatu pagi ia menemukan bahwa kuda itu tidak ada di kandangnya. Seluruh desa datang menemuinya. “Orang tua bodoh,” mereka mengejek dia, “sudah kami katakan bahwa seseorang akan mencuri kudamu. Kami sudah peringatkan bahwa kamu akan dirampok. Anda begitu miskin. Mana mungkin anda dapat melindungi binatang yang begitu berharga? Sebaiknya anda sudah menjualnya. Anda boleh minta harga apa saja. Harga setinggi apapun akan dibayar juga. Sekarang kuda itu hilang dan anda dikutuk oleh kemalangan. ”Orang tua itu menjawab, 
“Jangan bicara terlalu cepat. Katakan saja bahwa kuda itu tidak berada di kandangnya. Itu saja yang kita tahu selebihnya adalah penilaian. Apakah saya di kutuk atau tidak, bagaimana Anda dapat ketahui itu? Bagaimana Anda dapat menghakimi?”
Orang protes, “Jangan menggambarkan kita sebagai orang bodoh! Mungkin kita bukan ahli filsafat, tetapi filsafat hebat tidak di perlukan. Fakta sederhana bahwa kudamu hilang adalah kutukan.”
Orang tua itu berbicara lagi, “Yang saya tahu hanyalah bahwa kandang itu kosong dan kuda itu pergi. Selebihnya saya tidak tahu. Apakah itu kutukan atau berkat, saya tidak dapat katakan. Yang dapat kita lihat hanyalah sepotong saja. Siapa tahu apa yang akan terjadi nanti?”
Orang-orang desa tertawa. Menurut mereka orang itu gila. Mereka memang selalu menganggap dia orang tolol, kalau tidak, ia akan menjual kuda itu dan hidup dari uang yang diterimanya. Sebaliknya, ia seorang tukang potong kayu miskin, orang tua yang memotong kayu bakar dan menariknya keluar hutan lalu menjualnya. Uang yang ia terima hanya cukup untuk membeli makanan, tidak lebih. Hidupnya sengsara sekali. Sekarang ia sudah membuktikan bahwa ia betul-betul tolol.  Sesudah lima belas hari, kuda itu kembali. Ia tidak di curi, ia lari ke dalam hutan. Ia tidak hanya kembali, ia juga membawa sekitar selusin kuda liar bersamanya. Sekali lagi penduduk desa berkumpul di sekeliling tukang potong kayu itu dan mengatakan, 
“Orang tua, kamu benar dan kami salah. Yang kami anggap kutukan sebenarnya berkat. Maafkan kami.”

Jawab orang itu, 
“Sekali lagi kalian bertindak gegabah. Katakan saja bahwa kuda itu sudah balik. Katakan saja bahwa selusin kuda balik bersama dia, tetapi jangan menilai. Bagaimana kalian tahu bahwa ini adalah berkat? Anda hanya melihat sepotong saja. Kecuali kalau kalian sudah mengetahui seluruh cerita, bagaimana anda dapat menilai? Kalian hanya membaca satu halaman dari sebuah buku. Dapatkah kalian menilai seluruh buku? Kalian hanya membaca satu kata dari sebuah ungkapan. Apakah kalian dapat mengerti seluruh ungkapan? Hidup ini begitu luas, namun Anda menilai seluruh hidup berdasarkan satu halaman atau satu kata. Yang anda tahu hanyalah sepotong! Jangan katakan itu adalah berkat. Tidak ada yang tahu. Saya sudah puas dengan apa yang saya tahu. Saya tidak terganggu karena apa yang saya tidak tahu.”
“Barangkali orang tua itu benar,” mereka berkata satu kepada yang lain. 
Jadi mereka tidak banyak berkata-kata. Tetapi di dalam hati mereka tahu ia salah. Mereka tahu itu adalah berkat. Dua belas kuda liar pulang bersama satu kuda. Dengan kerja sedikit, binatang itu dapat dijinakkan dan dilatih, kemudian dijual untuk banyak uang. Orang tua itu mempunyai seorang anak laki-laki. Anak muda itu mulai menjinakkan kuda-kuda liar itu. Setelah beberapa hari, ia terjatuh dari salah satu kuda dan kedua kakinya patah. Sekali lagi orang desa berkumpul sekitar orang tua itu dan menilai.

“Kamu benar,” kata mereka, “Kamu sudah buktikan bahwa kamu benar. Selusin kuda itu bukan berkat. Mereka adalah kutukan. Satu-satunya puteramu patah kedua kakinya dan sekarang dalam usia tuamu kamu tidak ada siapa-siapa untuk membantumu. Sekarang kamu lebih miskin lagi.” Orang tua itu berbicara lagi, “Ya, kalian kesetanan dengan pikiran untuk menilai, menghakimi. Jangan keterlaluan. Katakan saja bahwa anak saya patah kaki. Siapa tahu itu berkat atau kutukan? Tidak ada yang tahu. Kita hanya mempunyai sepotong cerita. Hidup ini datang sepotong-sepotong.”

Maka terjadilah 2 minggu kemudian negeri itu berperang dengan negeri tetangga. Semua anak muda di desa diminta untuk menjadi tentara. Hanya anak si orang tua tidak diminta karena ia sedang terluka. Sekali lagi orang berkumpul sekitar orang tua itu sambil menangis dan berteriak karena anak-anak mereka sudah dipanggil untuk bertempur. Sedikit sekali kemungkinan mereka akan kembali. Musuh sangat kuat dan perang itu akan dimenangkan musuh. Mereka mungkin tidak akan melihat anak-anak mereka kembali.
“Kamu benar, orang tua,” mereka menangis, “Tuhan tahu kamu benar.
Ini membuktikannya. Kecelakaan  anakmu merupakan berkat. Kakinya patah, tetapi paling tidak ia ada bersamamu. Anak-anak kami pergi untuk selama-lamanya”.

     Orang tua itu berbicara lagi, 
“Tidak mungkin untuk berbicara dengan kalian. Kalian selalu menarik kesimpulan. Tidak ada yang tahu. Katakan hanya ini: anak-anak kalian harus pergi berperang, dan anak saya tidak. Tidak ada yang tahu apakah itu berkat atau kutukan. Tidak ada yang cukup bijaksana untuk mengetahui. Hanya Allah yang tahu.”

Orang tua itu benar. Kita hanya tahu sepotong dari seluruh kejadian. Kecelakaan-kecelakaan dan kengerian hidup ini hanya merupakan satu halaman dari buku besar. Kita jangan terlalu cepat menarik kesimpulan. Kita harus simpan dulu penilaian kita dari badai-badai kehidupan sampai kita ketahui seluruh cerita.

Saya tidak tahu dari mana si tukang kayu belajar menjaga kesabarannya. Mungkin dari tukang kayu lain di Galilea. Sebab tukang kayu itulah yang paling baik mengungkapkannya:
“Janganlah kamu kuatir akan hari esok karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri.”
Ia adalah yang paling tahu. Ia menulis cerita kita. Dan Ia sudah menulis bab yang terakhir.  (In The Eye of The Storm – Max Lucado).


Perumpamaan Tentang Lalang & Gandum



Dalam Injil Tuhan Yesus menjelaskan tentang perumpamaan lalang diantara gandum kepada murid-muridNya. Apakah anda cepat menilai atau menghakimi kesalahan orang lain?  Perumpamaan tentang lalang diantara gandum Matius 13:24-30 mengajarkan kita tentang kesabaran, agar kita tidak mudah menghakimi sebelum waktunya tepat. 
Yesus juga memperingatkan murid-muridNya bahwa ada musuh yang berupaya untuk menghancurkan benih yang baik dari FirmanNya sebelum menghasilkan buah. (ayat 39).

Yang baik dan jahat bisa ditaburkan di hati kita seperti biji kecil yang berkecambah dan pada waktuya menghasilkan panen buah yang baik atau buruk. Kita harus berjaga-jaga dan waspada agar kejahatan tidak berakar dalam hati dan merusak kita. Kita akan menuai apa yang kita tabur dalam hidup ini.  Charles Read menulis: “Menabur suatu tindakan dan anda menuai kebiasaan, menabur kebiasaan dan anda menuai karakter, menabur karakter dan anda menuai takdir.” Pada hari penghakiman masing-masing kita akan menuai apa yang telah ia taburkan dalam kehidupan ini.

Mereka yang menabur baik akan bersinar di Kerajaan Bapa. Mereka akan memancar dengan keindahan, kegembiraan dan kepenuhan cinta Allah. “Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa. Apakah anda membiarkan Kasih Yesus Kristus memerintah dalam hati, pikiran dan tindakan anda?  Semoga. Tuhan Yesus, semoga cintaMu yang menguasai segalanya menguasai hati kami dan mengubah hidup kami sehingga kami dapat menabur apa yang baik, layak dan menyenangkan bagiMu" amin.

Matius 13:37-43
Ia menjawab, kata-Nya: “Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia, ladang ialah dunia. Benih yang baik itu anak-anak Kerajaan dan lalang anak-anak si jahat.  Musuh yang menaburkan benih lalang ialah Iblis. Waktu menuai ialah akhir zaman dan para penuai itu malaikat. Maka seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga pada akhir zaman. Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya. Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api, di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi. Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!”

Tanyakan Kepada Pelukis Anda






Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan Darah Yang Mahal, yaitu Darah Kristus yang sama seperti Darah Anak Domba Yang Tak Bernoda dan Tak Bercacat. 1Petrus 1:18-19
Jika Anda bukan penyuka karya seni, mungkin ketika melihat beberapa lukisan yang dibandrol ratusan bahkan milyaran rupiah untuk satu lukisan tertentu akan berpikir bahwa harga tersebut tidak pantas. Akan tetapi bagi penikmat karya seni (lukisan) yang memiliki sudut pandang dari ‘dunia’nya menganggap sebuah kewajaran.
Pada tahun 2017 silam, sebuah lukisan yang dilukis di atas papan kayu berukuran 46x64cm, dengan judul “Salvator Mundi” berhasil dilelang di New York dengan harga jika dirupiahkan saat itu bisa mencapai 6 triliun (sumber liputan6.com). Sebuah karya hanya bisa dipahami dan dihargai mahal oleh mereka yang benar-benar bisa memahaminya. Bagi kita kaos berlubang-lubang mungkin hanya akan dijadikan keset atau sekedar pembersih untuk mencuci motor/mobil.
Namun bagi beberapa orang, kaos berlubang bisa menjadi barang bernilai puluhan juta karena ternyata yang melubanginya adalah seekor gajah. Rupa-rupanya ada sebuah brand yang diciptakan seseorang bahwa seekor gajah pun bisa membuat sebuah pola seni yang dipandang indah oleh ‘penyuka’ seni tersebut. Sekali lagi kembali kepada siapa yang menilai. Pertanyaannya sekarang adalah seberapa berharganya nilai Anda? Jika Anda tanyakan kepada musuh Anda maka yang Anda dapatkan adalah nilai nol atau bahkan minus.  
Kepada teman-teman dekat Anda pun akan beragam, ada yang menilai Anda 100 dari skala sejuta, 6 dari skala 10 dan seterusnya. Tentu ini bukan seperti seorang guru memberi nilai rapor kepada murid-muridnya, tetapi tentang memberi nilai atas keberadaan kita terhadap dampak sekitar kita. Jika penilaian kita kembali kepada Sang Pencipta, di hadapan-Nya kita bernilai dan bermutu tinggi, sehingga hanya nyawa-Nya yang bisa menyepadankan ‘nilai jual’ kita. Jadi mulai sekarang ukuran untuk menilai siapa diri kita harus berdasarkan ukuran-Nya.
Dan ketika kita menyadarinya, tentu tidak akan menyia-nyiakan kehidupan yang Dia berikan kepada kita sebagai pribadi yang spesial di hadapan-Nya. Bagi Dia, kita adalah karya yang paling ‘fenomena’, sehingga setan pun menjadi ‘cemburu’ terhadap kita dan berusaha merusaknya.  Jangan sia-siakan karya-Nya atas diri kita, berusahalah dengan setia untuk setiap pekerjaan yang saat ini sedang kita kerjakan supaya bisa menjadi karya yang berdampak mulia bagi Kerajaan-Nya. Selamat berkarya karena Anda adalah buah hasil karya Agung Sang Pencipta.

Kisah Ibu dan Anak

Ini adalah salah satu cerita yang terjadi di kehidupan kita. Mari kita memberikan contoh kepada anak-anak kita untuk memprioritaskan berbakti dan peduli akan keluarga atau orang tua yang telah melahirkan dan mendidik kita tanpa pamrih dan gratis pula!

Diana adalah seorang anak yg pandai karena kepintarannya dia mendapat bea siswa untuk bersekolah di Australia, setelah lulus Diana menikah dengan WN Australia, tinggal dan bekerja di Australia.


Setiap tahun menjelang Imlek mamanya selalu menelpon ke Australia menanyakan apakah Imlek ini Diana pulang ke Indonesia. Diana selalu menjawab "tidak" karena menjelang Imlek perusahaan tempatnya bekerja, sedang sibuk sibuknya untuk "tutup buku". 

Suatu subuh Diana mendapat telepon yg mengabarkan kalau mamanya kecelakaan dan dalam keadaan koma. Diana menangis kemudian dengan pesawat pertama hari itu juga, Diana pulang ke Indonesia.



Namun dalam kedatangannya, dia hanya menemukan tubuh mamanya yang terbaring diam, tak ada lagi senyuman, tak ada lagi kata kata renyah yang selalu menanyakan kapan dia kembali. Sejak kembali dia hanya bisa memandangi sesosok tubuh yg terbaring diam. Akhirnya setelah terbaring koma beberapa lama, mamanya meninggalkan dunia yang fana ini, tanpa sempat tersadarkan kembali. Diana menangis menyesali diri, tapi apakah penyesalan bisa memutar balikkan waktu kembali?

Saudara-saudari masalah Diana bukanlah masalah waktu, buktinya ketika mendengar ibunya kecelakaan Diana bisa langsung pulang. Masalah Diana adalah masalah penentuan Prioritas dalam hidup.


APAKAH BERTEMU DENGAN ORANG TUA BUKAN SEBUAH PRIORITAS? APAKAH BERBAKTI PADA ORANG TUA BUKAN SUATU YG BERHARGA YANG PATUT DIPERJUANGKAN DIDALAM HIDUP INI? Mari kita renungkan!